September, 2009

Terbit, Buku Terbaru Saya: ‘Dasar-Dasar Siaran Radio’

Terbit, Buku Terbaru Saya: ‘Dasar-Dasar Siaran Radio’

Posted on 25 Sep 2009 at 1:00pm

Alhamdulillah, buku terbaru saya berjudul Dasar-Dasar Siaran Radio (Basic Announcing) telah terbit. Penerbit Nuansa Cendekia Bandung. Buku setebal lebih dari 200 halaman ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi Anda yang berminat terjun ke dunia siaran radio, juga dapat menjadi buku teks (textbook) untuk mata kuliah Dasar-Dasar Siaran Radio (Basic Announcing). Continue

Permalink  |  Tagged with:
Maka Maafkanlah...

Maka Maafkanlah…

Posted on 20 Sep 2009 at 7:55am

Saling bermaafan adalah tradisi luhur paling populer dalam suasana Idulfitri. Semua orang (hendaknya) membuka pintu maaf dan tanpa ragu meminta maaf. Ungkapan khasnya adalah “Mohon maaf lahir dan batin”.

Meminta maaf dan memaafkan adalah perintah Allah Swt agar terjalin kehidupan yang tenang dan harmonis antarsesama manusia. Menurut pakar tafsir M. Quraish Shihab, Al-Quran antara lain menggunakan kata insân untuk menunjuk kepada manusia. Kata insan, secara etimologis, terambil dari kata uns yang berarti “senang”  atau “hubungan harmonis”. Dapat dipahami, manusia pada dasarnya selalu merasa senang atau seharusnya demikian saat bertemu dengan sesama serta memiliki potensi untuk menjalin hubungan harmonis antara sesama.

Populer juga pandangan yang menyatakan bahwa kata insân terambil dari akar kata nisyân yang berarti lupa. Allah menganugerahi manusia sifat lupa, antara lain, agar dia dapat melupakan kesalahan orang lain atau kesedihan yang dialaminya.

Terganggunya hubungan harmonis terjadi akibat dosa atau kesalahpahaman. Akan tetapi, manusia akan kembali ke harmonisan pada saat manusia menyadari kesalahannya,  dan berusaha mendekat kepada orang yang pernah dia lukai hatinya. Dari sini, Islam mensyariatkan upaya maaf-memaafkan.

Memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas kekesalan yang ada di dada, atau mengeluarkan apa yang terdapat dalam dada dari kesalahan orang lain, sehingga hilang dari ingatan.

Bahkan, menurut M. Quraish Shihab, dalam Al-Quran tidak ditemukan satu ayat pun yang menggunakan kata yang menunjuk kepada permintaan maaf kepada sesama manusia. Yang ada hanyalah perintah untuk memberi maaf, Hendaklah mereka  memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS. An-Nuur  : 22).

Kesan yang ditimbulkan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk tidak menanti  permohonan maaf dari orang yang bersalah, tetapi hendaknya memberinya sebelum diminta. Ketika Misthah yang diberi bantuan oleh Abubakar r.a. menyebarluaskan isu negatif terhadap Aisyah, istri Nabi Saw dan putri Abubakar, sang ayah bersumpah untuk tidak  membantunya lagi. Sikapnya ini ditegur oleh firman Allah QS. Al-Nûr: 22 tersebut.

Memaafkan berarti mengundang ampunan Allah Swt. Karena itu, mereka yang enggan memberi maaf, pada hakikatnya, enggan memperoleh pengampunan dari Allah Swt. dan karena itu pula dalam kamus Islam tidak dikenal ungkapan “Tiada maaf bagimu”.

Ada juga kata yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada ”maaf plus”, yakni kata Al-shafh. Kata ini, dalam berbagai bentuknya, terulang di dalam Al-Quran sebanyak delapan kali. Ia, pada mulanya, berarti “lapang”. Halaman dalam sebuah buku atau ruangan, dinamai shafhah karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini, al-shafh diartikan “kelapangan dada”. Berjabat tangan dinamai mushâfahah karena dia merupakan perlambang kelapangan dada orang-orang yang berjabatan tangan itu.

Dari delapan kali bentuk kata al-shafh yang dikemukakan Al-Quran itu, empat di antaranya didahulu oleh perintah memberi maaf. Perhatikan ayat-ayat berikut:

Apabila kamu memaafkan, melapangkan dada serta melindungi, maka sesungguhnya Allah Maha  Pengampun  lagi Maha Penyayang” (QS Al-Taqhâbun : 14).

Maafkanlah mereka dan lapangkan dada, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya)” (QS. Al-Ma‘idah : 13). Baca juga QS Al-Baqarah (2): 109, dan Al-Nûr (24): 22.

Dengan al-shafh seseorang dituntut untuk membuka lembaran baru  sehingga hubungan  tidak ternodai sedikit pun, tidak kusut, dan tidak seperti halaman yang  telah dihapus kesalahannya itu. Mushafahah (jabat tangan) adalah lambang kesediaan  seseorang untuk membuka lembaran baru dan tidak mengingat atau menggunakan lagi lembaran lama yang, walaupun telah dihapus kesalahannya, mungkin sedikit kekusutannya masih ada.

Memaafkan adalah salah satu ciri orang bertakwa. Yang mampu menahan amarah dan memaafkan manusia (yang bersalah). Allah menyenangi orang-orang muhsin (yang berbuat baik)” (QS Âli ‘Imrân:134).

Rasullulah Saw memberikan bimbingan, “Carilah alasan untuk memaafkan saudaramu walau hingga 70 alasan.” Seorang murid bertanya kepada gurunya, Imam Hasan Al-Basri, “Mengapa Rasullah menyuruh kita mencari 70 alasan untuk memaafkan?”. Jawab Hasan Basri, “Itu menunjukkan pentingnya memaafkan. Sebelum kita sampai pada 70 alasan kita belum bisa memaafkan, kita harus bersedih karena memiliki hati sekeras batu.”

Maaf-memaafkan hakikatnya adalah silaturahmi atau silaturrahim (shilah al-rahim). Silaturahim terdiri dari kata shilah –yang terambil dari akar kata washala yang berarti menyambung– dan ar-rahim yang pada mulanya berasal dari nama Allah, lalu diberikannya kepada makhluk untuk menunjuk pada sesuatu yang  menjadi penyebab kasih-sayang, yakni “rahim/peranakan”.

Walaupun dalam Al-Quran tidak terdapat istilah shilaturrahim, namun ada sekian ayat yang mengisyaratkan pentingnya memelihara shilaturrahim, seperti QS Al-Nisâ’ (4): 1.

Bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain (dan peliharalah hubungan) rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Di samping perintah di atas, ada juga ayat yang mengecam orang-orang yang  memutuskannya, seperti:

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya pula mata mereka” (QS Muhammad : 22-23).

Wa’fu washfahu…. Maka maafkan dan berjabat tanganlah. Selamat Idul Fitri 1430 H. Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal ibadah kita). Allahummaj’alna Minal ‘aidin wal faizin (Ya Allah jadikanlah kami golongan yang kembali dan menang). Mohon maaf lahir dan batin. Hampura ka sadayana…. Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

Visi, Misi, dan Manajemen Perkuliahan Jurusan Jurnalistik

Visi, Misi, dan Manajemen Perkuliahan Jurusan Jurnalistik

Posted on 18 Sep 2009 at 10:08pm

Oleh ASM. Romli

Bidang studi Jurnalistik mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan dunia kewartawanan termasuk di dalamnya adalah pengelolaan dan pendayagunaan media massa baik cetak maupun elektronik.

Reformasi membawa dampak terhadap perkembangan media nasional. Era keterbukaan memberi peluang bagi menjamurnya media baik cetak, elektronik maupun interaktif. Penambahan jumlah media membutuhkan tenaga - tenaga profesional di bidang Jurnalistik baik sebagai wartawan, maupun pengelola industri media.

Selain itu dapat juga mempraktekkan kemampuan berwirausaha di bidang komunikasi, kantor berita, ataupun menjadi pengajar dan peneliti di bidang jurnalistik.

Bidang Studi Jurnalistik lebih menekankan pada berbagai aspek yang meliputi perkembangan, proses, dampak, dan pengelolaan serta pendayagunaan media massa baik yang berbentuk media cetak (surat kabar, majalah), media auditif, maupun media audio visual (TV/Radio). Pengetahuan dan keterampilan yang diberikan di bidang ini tidak saja menyangkut aspek-aspek teoritis, akan tetapi menyangkut pula aspek teknis atau keterampilan jurnalistik.

Dengan memberikan perhatian pada aspek ilmu dan teknis jurnalistik tersebut, diharapkan para lulusan bidang studi jurnalistik mempunyai kemampuan akademis yang profesional di bidangnya. Dengan demikian para lulusan/sarjana Jurnalistik akan dapat mengaplikasi-kan ilmunya baik dalam hal produksi (penulisan dan perencanaan), penelitian, dan pengelolaan media massa seperti dalam bidang persuratkabaran, radio maupun televisi/film.

Jurnalistik Kampus Islam

Bagi kampus atau Perguruan Tinggi Islam, jurusan jurnalistik harus bernilai plus, yakni plus visi-misi Islami. Tujuan perkuliahan jurnalistik di kampus Islam hendaknya:

  • Memberdayakan umat Islam di bidang jurnalistik.
  • Mengembangkan syi””ar Islam melalui dakwah di media massa.
  • Menggali potensi umat Islam untuk melakukan dakwah di media massa.
  • Mempersiapkan dan membina kader-kader dakwah via media massa yang andal, minimal mampu menggerakkan buletin jumat di masjid-masjid.
  • Mendorong lahirnya media massa Islam, paling tidak dalam bentuk buletin masjid (buletin jumat) di masjid-masjid.
  • Memberikan wawasan dan keterampilan jurnalistik, berupa penulisan berita, feature, artikel, resensi, dan pengelolaan buletin masjid.

Media Praktik Mahasiswa Jurnalistik

Jurnalistik adalah ilmu terapan (applied science). Karenanya, perkuliahan jurnalistik mesti “full” praktek untuk mengasah keterampilan jurnalistik mahasiswa. Sarana praktek wajib disediakan oleh manajemen jurusan, seperti ruang multimedia.

Dengan kata lain, jurnalistik adalah ilmu terapan (applied sience) sekaligus seni (art) dan keterampilan (skill) yang membutuhkan medium pelatihan sebagai sarana pengembangan dan pengasahan keterampilan.

Seluruh mahasiswa jurnalistik wajib memiliki blog sejak tahun pertama kuliah. Di blognya masing-masing mereka bisa memposting resume perkuliahan, berita yang mereka buat sendiri, dan artikel atau sekadar komentar ringkas atas peristiwa aktual.

Perkuliahan mahasiswa jurnalistik harus ditunjang oleh sarana praktik untuk meningkatkan pemahaman dan penguasaan teknik jurnalistik sehingga mahasiswa lulusan jurnalistik akan “siap pakai” (ready to work). Idealnya, selain blog atau situs khusus untuk menampung karya jurnalistik mahasiswa, jurusan jurnalistik menerbitkan media konvensional seperti tabloid atau suratkabar (media cetak).

Selain sebagai media praktik, penerbitan media praktik juga berfungsi untuk mengasah nalar dan kritisisme mahasiswa, sekaligus sarana ekspresi idealisme mahasiswa dalam lingkungan kampusnya (Pers Kampus).

Penerbitan media praktik otomatis sangat menunjang pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) karena mahasiswa tidak hanya berkutat di bangku kuliah untuk mendalami konsep-teoritis, namun juga langsung mempraktikkannya di lapangan untuk memupuk kompetensi mereka sebagai jurnalis.

Media praktik itu bermisi sebagai media pelatihan sekaligus media ekspresi mahasiswa untuk mengkritisi fenomena yang terjadi di sekitarnya secara objektif, proporsional, ilmiah, santun, dan elegan.

Selain itu, misi media praktik ini sebagai penunjang sistem perkuliahan berdasarknan sistem KBK, mencetak lulusan jurnalistik yang “siap pakai” dan bersaing di dunia kerja, juga sebagai media informasi dan komunikasi harmonis dan efektif antar mahasiswa jurnalistik, organisasi mahasiswa jurusan, lembaga jurusan, dan dosen.

Mata Kuliah

01. Dasar-Dasar Jurnalistik

Memberikan pengetahuan teoritis mengenai ikhwal dunia jurnalistik khususnya kewartawanan.Pengetahuan yang diberikan meliputi cara kerja wartawan (radi,televisi,dan surat kabar, kaidah-kaiadah penulisan jurnalistik dan sejarah perkembangan jurnalistik.

02. Hukum & Etika Jurnalistik

Mengkaji sistem dan hukum media massa yang berlaku di Indonesia. Materi bahasan menyangkut latar belakang filosofi tentang ketentuan hukum dan kode etik jurnalistik, UU Pers, UU Penyiaran, KUHP.

03. Bahasa Jurnalistik

Memberikan wawasan teoritis dan praktis agar mahasiswa menguasai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar,cara penulisan berita, feature, tanda baca dan tipografi, dll. Di samping itu, mahasiswa diharapkan menguasai penggunaan bahasa baku pada produk/karya jurnalistik dan menyusun kalimat efektif.

04. Dasar-Dasar Fotografi

Memberikan wawasan teoritis dan praktis mengenai metode pemotretan, meliputi cara menggunakan kamera, karakteritis kamera dan teknik pengambilan foto, (kecepatan,rana,pencahayaan,dsb )

05. Jurnalistik Foto

Membahas konsep, prinsp-prinsip proses dan teknik-teknik produk foto sebagai karya jurnalistik, baik berdiri sendiri maupun sebagai penunjang pemberitaan.

06. Teknik Reportase

Memberikan keterampilan peliputan peristiwa dan pendalaman isu aktual melalui pengamatan langsung ke lapangan/tempat kejadian perkara, wawancara, dan studi literatur

07. Teknik Wawancara

Pengertian wawancara, jenis-jenis wawancara, serta persiapan, pelaksanaan, dan penulisan (transkip) hasil wawancara serta teknik penulisan atau penyajiannya.

08. Teknik Penulisan Berita

Pengertian berita, unsur-unsur berita (5W+1H), anatomi atau struktur tulisan berita, jenis-jenis berita, dan etika pemberitaan.

09. Teknik Penulisan Feature

Pengertian feature, karakteristik, jenis-jenis feature, anatomi feature, penulisan lead, dan gaya bahasa khas feature.

10. Teknik Penulisan Artikel

Pengertian artikel, jenis-jenis, struktur tulisan, kualifikasi penulis, teknis penulisan, menggali ide, pengembangan ide, dll.

11. Teknik Penyuntingan Naskah (Editing)

Pengertian editing, aspek teknis dan nonteknis, syarat redaktur, penguasaan bahasa, pemahaman visi-misi media, dan editorial policy.

12. Manajemen Media & Redaksi

Memberikan wawasan tentang kiat mengelola sebuah media baik divisi redaksi maupun marketing –proses pendirian, perencanaan, pengorganisasia, pelaksanaan, dll. Landasan filosifis manajemen redaksi, newsplaning, newshunting, newswriting, news editing, struktur organisasi redaksi, job description.

13. Manajemen Pemasaran Media

Positioning, target audience, strategi pasar modern dan trasional/konvensional, pembinaan agen, reward and punishment agency, inkaso, dll.

14. Jurnalistik Radio I

Memberikan pemahaman tentang karakteristik dan sifat radio siaran serta sifat pendengar radio siara.Disamping itu juga memberikan pengetahuan teoritis dan praktis mengenai dasar-dasar jurnalistik radio siaran,langkah-langkah dan teknik-teknik yang harus dilakukan seorang reporter radio dalam mencari, memburu, meliputi, melaporkan/menulis naskah berita, baik yang bersifat formal (terjadwal) maupun nonformal (kejadian yang tidak terjadwal, seperti kecelakaan, demonstrasi). Mahasiswa juga dibekali dengan perencanaan program radio komersial, jaringan dan sindikat, program musik, berita, diskusi dan talk show, olah raga, dsb.

15. Jurnalistik Radio II

Mata kuliah ini membatasi pada beberapa aspek pengetahuan teknik reportase siaran khusus,perbedaan reportase siaran,cetak berbagai bentuk penyajian reportase serta olah-raga.Disamping itu juga memberikan pemahaman tentang wawancara radio,voice,report,news insert. Majalah udara. feature, laporan serta teknik penilisan naskah radio. Prasyarat : Jurnalis Radio I

16. Jurnalistik Radio III

Memberikan pemahaman dan pengenalan musik,efek suara rekaman,editing sert melatih mahasiswa untuk memproduksi media radio siaran,mulai dari tahap perncanaan, produksi, hingga editing. Di samping itu, sebelum memproduksi suatu media radio siaran, mahasiswa diberikan pengetahuan teoritis mengenai pengaruh /dampak media radio siaran terhadap masyarakat, khususnya yang menyangkut industri budaya yang dilakukan oleh media radio siaran. Dengan bekal pengetahuan teoritis tersebut,diharapkan mahasiswa mampu memberikan analisis yang kritis terhadap kemungkinan pengaruh (budaya, nilai, norma) yang terjadi pada khalayak sasaran media radio siaran. Pada akhir perkuliahan, mahasiswa diwajibkan memproduksi (porfolio) suatu karya media radio siaran. Prasyaratan: Jurnalistik Radio II

17. Jurnalistik TV I

Memberikan pemahaman tentang karakteristik dan sifat televisi siaran serta sifat khalayak televisi. Pengetahuan teoritis dan praktis mengenai dasar-dasar jurnalistik televisi siaran,langkah-langkah dan teknik-teknik yang harus dilakukan oleh seorang repoter televisi dalam mencari,memburu,meliputi,melaporkan /menulis naskah berita,baik yang bersifat formal (terjadwal)maupun non formal (kejadian yang tidak terjadwal,seperti kecelakaan,demonstrasi,dll). Mahasiswa juga dibekali dengan manajemen produksi,manajemen penyiaran,perencanaan program televisi komersial,jaringan dan sindikat,program musik,berita (Tv news production),diskusi dan talk show,olah-raga,dsb. Prasyaratan : Dasar-dasar Jurnalistk

18. Jurnalistik TV II

Mahasiswa diperkenalkan pada dasar-dasar teknik pertelevisian,teknik peralatan (VTR dan Editing,Audio,Lighting,kamera,dll),computer dan TV Grapich serta teknik operasional studio & SNG. Disamping itu mahasiswa juga diberikan wawasan tentang komposisi,motivasi visual mode dan camera work. Prasyaratan : Jurnalistik Televisi I

19. Jurnalistik Online (CyberMedia)

Karekteristik jurnalisme online, manajemen media online, penulisan naskah untuk media online, bahasa media online, dll.

20. Desain Grafis – Membahas masalah desain media massa (cetak) meliputi setting/lay out, perwajahan, ilustrasi, pemilihan huruf, penentuan kolom, dll.

21. Magang

Memberikan kesempatan mempraktekan pengetahuan profesi jurnalistik dan menggali pengalaman kerja di lembaga /industri media massa.

Demikian visi, misi, dan manajemen perkuliahan jurusan jurnalisik yang saya gali dari berbagai sumber, plus pengalaman dan idealisme saya demi kemajuan dunia jurnalistik. Semoga menjadi kontribusi pemikiran bagi para pengelola jurusan jurnalistik di perguruan tinggi mana pun. Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

Manajemen Pers Sekolah: Pokok Pemikiran

Manajemen Pers Sekolah: Pokok Pemikiran

Posted on 18 Sep 2009 at 9:58pm

Karakter Pers Sekolah

· Elitis (elite papers) - dari siswa oleh siswa untuk siswa.

· Bahasa: paduan bahasa jurnalistik & anak muda (slank).

· Visi, misi, dan isinya ditujukan untuk kepentingan siswa & sekolah –jangan diarahkan menjadi pers umum.

· Profil siswa sebagai kaum remaja yang dinamis, aktif, kreatif, dan serba ingin tahu harus tercermin dalam pers sekolah.

· Menjadi wadah bagi penyaluran ekspresi siswa (to provide medium for student expression).

· Menjadi pers yang diperlukan oleh komunitas sekolah (should make itself indispensable to the school community).

· Harus dapat memenuhi fungsinya sebagai media komunikasi (to serve the purpose of mass communications).

Manajemen I : Redaksi

· Konsep Henry Fayol: POAC

· Planing artinya perencanaan, yakni penyusunan atau penetapan tujuan dan aturan.

· Organizing artinya pengorganisasian berupa pembentukan bagian-bagian, pembagian tugas, atau pengelompokkan kerja.

· Acting artinya pelaksanaan rencana.

· Controling adalah pengawasan dan evaluasi hasil kerja.

PLANING – KONSEP MEDIA

· Penetapan visi dan misi

· Nama media dan moto

· Rubrikasi

· Editorial Policy –kebijakan redaksi tentang karakteristik naskah layak muat (fit to print).

ORGANIZING – SDM

· Pembentukan struktur organisasi redaksi –mulai pemimpin redaksi hingga reporter.

· Pembagian tugas atau gambaran kerjanya (job description).

· Rekrutmen & kaderisasi –mis. via pelatihan jurnalistik.

· Kualifikasi SDM/Wartawan : (1) penguasaan teknik jurnalistik, (2) penguasaan bidang & wilayah liputan, dan (3) pemahaman kode etik.

ACTING – AKTIVITAS

· News Planing – Perencanaan Isi/Proyeksi, Rapat Redaksi

· News Gathering – Reportase: wawancara, liputan peristiwa, studi literatur.

· News Writing – Penulisan Naskah

· News Editing – Penyuntingan Naskah: Redaksional & Substansial.

· Graphic Design – Layout & Ilustrasi

· Printing - Percertakan

· Marketing – Distributing

· Evaluating – Rapat Evaluasi

CONTROLLING – PENGAWASAN KINERJA

· Peran Pemimpin Redaksi menonjol –mengawasi kinerja jajaran redaksi, apakah bekerja sesuai rencana atau tidak.

· Pengawasan mengacu pada visi, misi, style book, kode etik jurnalistik, dan tata tertib di bagian redaksi.

· Memutuskan penghargaan dan hukuman (reward and punishment) terhadap wartawan yang berprestasi dan melakukan pelanggaran.

Manajemen II : Marketing

· Promosi –AIDCA (Attention, Interest, Desire, Conviction, Action).

· Iklan & Pencarian Donatur –-proposal penawaran

· Distribusi –Target Pembaca.

Kunci Sukses Media

· Product — kualitas isi dan tampilan.

· Promotion – AIDCA.

· Please — kualitas pelayanan media tersebut untuk menyenangkan (to please) dan memudahkan pembaca.

· Price — harga terjangkau.

Tiga Sehat - Triple S

· Sehat SDM – profesionalisme.

· Sehat Manajemen –terencana, terarah, dan terkendali.

· Sehat Sarana — terpenuhinya sarana-prasarana.

Demikian pemikiran saya tentang pers sekolah yang pernah saya sampaikan di sebuah diklat pers sekolah (lupa lagi, udah lama bangets seeh!). Anda, pembina sekolah dan para siswa, halal mengamalkan pemikiran yang saya gali dan rangkum dari berbagai sumber dan pengalaman ini. Mangga, semoga bermanfaat. (www.romeltea.com).*

Sejarah Jurnalistik: Asal-Usul

Sejarah Jurnalistik: Asal-Usul

Posted on 10 Sep 2009 at 2:44pm

Normal 0 <-->

Berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna” pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM). Continue

Permalink  |  Tagged with:

Pengertian Bahasa Jurnalistik

Posted on 03 Sep 2009 at 10:23am

Bahasa Jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis berita. Disebut juga Bahasa Komunikasi Massa (Language of Mass Communication, disebut pula Newspaper Language), yakni bahasa yang digunakan dalam komunikasi melalui media massa, baik komunikasi lisan (tutur) di media elektronik (radio dan TV) maupun komunikasi tertulis (media cetak), dengan ciri khas singkat, padat, dan mudah dipahami.

Bahasa Jurnalistik memiliki dua ciri utama : komunikatif dan spesifik. Komunikatif artinya langsung menjamah materi atau langsung ke pokok persoalan (straight to the point), bermakna tunggal, tidak konotatif, tidak berbunga-bunga, tidak bertele-tele, dan tanpa basa-basi. Spesifik artinya mempunyai gaya penulisan tersendiri, yakni kalimatnya pendek-pendek, kata-katanya jelas, dan mudah dimengerti orang awam.

Bahasa Jurnalistik hadir atau diperlukan oleh insan pers untuk kebutuhan komunikasi efektif dengan pembaca (juga pendengar dan penonton).

Rosihan Anwar : Bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu : singkat, padat, sederhana, lancer, jelas, lugas, dan menarik. Bahasa jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosa kata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.

S. Wojowasito : Bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa sebagai tampak dalam harian-harian dan majalah-majalah. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa tersebut haruslah jelas dan mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek yang minimal. Sehingga sebagian besar masyarakat yang melek huruf dapat menikmati isinya. Walaupun demikiantuntutan bahwa bahasa jurnalistik harus baik, tak boleh ditinggalkan. Dengan kata lain bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar, pilihan kata yang cocok.

JS Badudu: bahasa surat kabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik. Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh bahasa surat kabar mengingat bahasa surat kabar dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Mengingat bahwa orang tidak harus menghabiskan waktunya hanya dengan membaca surat kabar. Harus lugas, tetapi jelas, agar mudah dipahami. Orang tidak perlu mesti mengulang-ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan dalam surat kabar.

Asep Syamsul M. Romli : Bahasa Jurnalistik/Language of mass communication. Bahasa yang biasa digunakan wartawan untuk menulis berita di media massa. Sifatnya : (1) komunikatif, yakni langsung menjamah materi atau ke pokok persoalan (straight to the point), tidak berbunga-bunga, dan tanpa basa-basi. Serta (2) spesifik, yakni jelas atau mudah dipahami orang banyak, hemat kata, menghindarkan penggunaan kata mubazir dan kata jenuh, menaati kaidah-kaidah bahasa yang berlaku (Ejaan yang disempurnakan), dan kalimatnya singkat-singkat.

Kamus Besar Bahasa Indonesia(2005): Bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa Indonesia, selain tiga lainnya — ragam bahasa undang-undang, ragam bahasa ilmiah, dan ragam bahasa sastra.

Dewabrata: Penampilan bahasa ragam jurnalistik yang baik bisa ditengarai dengan kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari atas sampai akhir, menggunakan kata-kata yang merakyat, akrab di telinga masyarakat sehari-hari; tidak menggunakan susunan yang kaku formal dan sulit dicerna. Susunan kalimat jurnalistik yang baik akan menggunakan kata-kata yang paling pas untuk menggambarkan suasana serta isi pesannya. Bahkan nuansa yang terkandung dalam masing-masing kata pun perlu diperhitungkan. (www.romeltea.com).*

More about Bahasa Jurnalistik: HERE!


Permalink  |  Tagged with:
Advertisement

More Posts

News Archive

September 2009
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Copyright © 2008-2010 Romeltea Magazine All Rights Reserved. Boleh Kutip & Copas dengan Menyebutkan Sumber www.romeltea.com